PUBLIKASI PSIKOLOGI



ARTIKEL

PERAN KADER DAKWAH DI ERA GLOBALISASI

Indonesia merupakan negara dengan model budaya soft culture. Soft culture adalah budaya yang notabene masyarakat atau penduduknya terbuka dan mudah menerima unsur-unsur budaya yang datang dari luar negeri. Baik itu dalam bentuk moral, gaya busana, intelektual, media dan lain sebagainya. Indonesia memang tak lagi dijajah secara fisik seperti ketika zaman penjajahan pada saat masa rodi atau romusa, tapi kini Indonesia dijajah secara mental dan intelektual. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang barat seringkali diimitasi oleh para remaja di Indonesia tanpa ada filter. bahkan sikap tersebut sudah menjadi kecenderungan bagi mereka.
Ternyata di balik fenomena tersebut, ada “dalang” dalam perilaku imitasi tersebut. Ada tujuan yang dikehendaki oleh beberapa kelompok. Ada misi “besar” yang terselinap dibalik fenomena itu. Yahudi adalah salah satu agama yang akan melakukan cara apapun untuk membuat orang-orang yahudi mengikuti jejak mereka. Golongan yang terobsesi itu adalah yahudi zionis. Tanpa disadari oleh agama lainnya, mereka mengikuti sedikit demi sedikit jejak-jejak para zionis yahudi (israel).
Bentuk-bentuk propaganda mereka adalah dari lambang-lambang dan simbol-simbol yang sebenarnya pemujaan kaum zionis terhadap “tuhan” mereka. Di agama tersebut ada satu organisasi besar yang bernama freemason. Organisasi ini adalah organisasi rahasia yang memiliki banyak anggota, termasuk para artis-artis terkenal di Amerika yaitu Lady Gaga, Justin Beiber dan amsih banyak artis lainnya. Seperti yang kita ketahui, di Indonesia kedua artis tersebut sangat terkenal dan tidak sedikit fans dari mereka yang begitu fanatik dengan lagu-lagu dan gaya mereka. Yang sebenarnya mereka telah membawa misi dari Freemason. Mereka menyebarkan lambang-lambang pemujaan tuhan mereka seperti lambang bintang david, pola papan catur, gambar tanduk setan, segi enam, piramida yang ujungnya samar, gambar kartun dengan mata satu, dll. Dengan mudahnya remaja mengimitasi bentuk-bentuk “trend” tersebut untuk dijadikan model tas atau koleksi-koleksi lainnya. Remaja mengimitasi hal tersebut dengan maksud agar tampil keren dan up to date, padahal sudah jelas bahwa simbol-simbol itu adalah propaganda dari orang-orang yahudi zionis.
Tak hanya pada model pakaian, tas atau segala atribut yang dikenakan, tapi juga pada remaja saat ini sering terjadi perang pemikiran, atau bahasa dakwahnya adalah gazhwul fikri. Remaja-remaja dicekoki oleh isu-isu yang merusak pandangan mereka terhadap agamanya sendiri yaitu Islam. Tersebarlah bahwa isu umat islam yaitu identik dengan teroris, yang bercirikan spesifik yaitu, wanita yang bercadar dan lelaki yang berjenggot panjang dengan celana sontog.
Remaja atau pemuda pemudi yang harusnya mengokohkan bangsa, justru terlena dengan keikutsertaannya “mencela” agamanya sendiri. Sangat disayangkan, remaja indonesia tidak cukup kuat benteng pemikirannya terhadap hal yang satu ini.
Menurut saya, kader dakwah Islam sangat dibutuhkan dalam pemberantasan hal ini. Inilah urgentsi dari dakwah. Tapi yang terjadi para kader dakwah seringkali cenderung memperlihatkan diri dengan sosok kelompok yang eksklusif, sulit bergaul, berdakwah dengan strategi yang “mentah” dan kurang mudah diterima oleh orang-orang disekitarnya yang sebenarnya membutuhkan bimbingan dari para kader dakwah.
Mahasiswa dikenal sebagai golongan orang-orang yang kritis terhadap segala permasalahan yang terjadi, terlebih jika ia adalah seorang kader dakwah. Belum lagi krisis moral yang terjadi, fenomenanya banyak remaja yang kepergok melakukan adegan mesum. Hal ini merupakan permasalahan besar yang harus ditangani bersama dan punya strategi khusus untuk menjalankannya. Oleh karena itu dibutuhkan mahasiswa yang memiliki sikap kepedulian sosial yang tinggi terhadap orang-orang disekitarnya. Mahasiswa yang bukan hanya sibuk untuk memperbaiki dirinya saja sendirian, tapi juga sibuk untuk mengajak orang lain untuk masuk ke surganya Allah. Karena ‘toh percuma aja kalo di surga tapi cuma sendirian’. Fastabiqul khairat, yaitu berlomba dalam kebaikan dalam jalan menuju ridho-Nya. Berdakwah dengan cara yang baik dan tak mengenal siapa yang didakwahi dan menerima masukan baik dari siapa saja, bahkan dari anak kecil sekalipun.
               Secara psikologis, remaja merasa dirinya terombang-ambing dalam kekeliruan yang hal ini begitu menyebabkan mereka menjadi salah arah, salah tindakan. Tak menjamin seorang remaja yang terlihat baik berkepribadian baik, tapi tak pula seorang remaja yang terlihat tidak baik berkepribadian tidak baik. Begitu pula remaja yang berasal dari keluarga islami, tidak selalu akan melahirkan anak-anak yang islami. Hal ini terjadi jika pola asuhan orangtua salah dan terlalu mengekang anak. Tak sedikit pula kita temukan anak remaja yang religius tapi ternyata orang tuanya tidak religius. Hal ini bisa terjadi karena sang anak mencari figur di luar orang tuanya sehingga ia menemukan figur yang tepat untuk membimbingnya lebih dalam kepada ajaran agama yang semestinya.
               Semua hal tidak baik yang terjadi di ligkungan kita adalah tugas kita bersama selaku masyarakat yang peka terhadap kemajuan bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

Cintaku..

Qalb yang artinya bolak-balik