PUBLIKASI PSIKOLOGI PART IV (ESSAY PERJALANAN)



My Essay
Assalamu’alaikum teman-teman
Perkenalkan nama saya sherly, saya anak pertama dari 3 bersaudara. Saya punya dua adik. Yang satu namanya Farhan Dwi Anggara, satu lagi Nayla Putti Melati. Usia saya jauh berbeda dengan adik-adik saya, dengan Farhan 9 tahun, sedangkan dengan Nayla jaraknya 14 tahun. Terkadang saya kayak lagi jalan sama keponakan kalau sama Nayla, ya saking jauhnya jarak usia kami. Nayla sampai sempat bertanya kepada ayah saya, ia bertanya, sebenarnya kakak itu anak siapa. Saya lahir dan besar di Bandung, bahkan orang tua saya memang menikah di Bandung. Ayah saya sudah lama merantau ke Bandung, sudah dari umur 17 tahun, pulang pergi bukittinggi. Sedangkan mama saya di ajak merantau dan menikah di Bandung. Akhirnya pada usia 20 tahun dan ayah yang 35 tahun menikah di Bandung, mama saya bilang kalau nikah di Kampung itu terlalu banyak yang harus diurus, ribet, dan gak simple.
Kamis, 17 Desember 1992, tepatnya sekitar pukul 10 malam, saya lahir di sebuah tempat persalinan, bidan adiwarti namanya. Kata mama, waktu lahir, tali pusar saya melilit ke seluruh tubuh saya, dan bidan itu bilang kalau anak ini (saya) nanti bakal jadi anak yang gesit, cekatan, dan panjang akal. (aamiin)
Akhirnya mama saya ngasih saya nama panjang Sherly Desiana Safitri. Dulu katanya mama suka sekali dengan artis yang namanya Sherly Marliton, jadi namanya sama deh. Terus, Des itu artinya Desember karna saya lahir di bulan Desember. Desiana itu satuan dari nama ortu saya (Derna & Iswenda). Safitri itu Sa yang berarti Sagitarius. Fitri itu kata mamah ciri khasnya orang minang. Itulah yang beliau jelaskan tiap saya bertanya tentang nama saya.
Masa kecil saya, saya lalui dengan bergaul dengan teman-teman sebaya di komplek saya. Semua permainan saya rasakan. Permainan khas tanah Sunda yang bernama gala asin, boy-boyan, popolisian, ucing-ucingan, gala ulung, mamasakan, dan lain-lain sudah saya alami. Tapi masa kecil takkan pernah terulang. Sesulit-sulitnya masa kecil, ketika sudah dewasa, kita pasti ingin kembali ke masa kecil.
Saat ini saya berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Riau. UIN Sultan Syarif Kasim. Banyak yang bertanya tentang diri saya, kenapa saya harus kuliah di Riau, sedangkan dari lahir sampai SMK saya berdomisili di kota Bandung yang notabene sudah ada banyak perguruan tinggi yang lebih bagus. Semua terjadi serba kebetulan. Awalnya saya sangat tidak ingin pindah ke Pekanbaru ketika saya mendengar ayah akan buka usaha di Pekanbaru. Ruko pun sudah di siapkan di jalan Paus. Usaha yang ayah buka adalah usaha penyulingan air. Ayah bermitra dengan saudara angkatnya.
Ketika saya masih kelas 3 SMK, ayah sudah mulai membuka rukonya. Mungkin sekitar 3 bulan ayah di Pekanbaru. Saya sedih jika harus meninggalkan kota Bandung, tempat kelahiran saya. Karena kegigihan saya yang ingin tetap di kota Bandung, akhirnya ayah saya memberikan kebijakan, bagaimana jika saya memilih ke dua kota, nanti kalau di terima, berarti disitulah nasibmu. SNMPTN pun tiba, saya mendaftarkan diri saya ke 2 kota sekaligus (karna hanya ada 2 pilihan untuk yang IPS). Pilihan pertama saya klik pada jurusan Psikologi UIN SUSKA Riau, yang kedua saya memilih jurusan Pendidikan Bahasa Prancis UPI Bandung. Saya memilih Riau yang pertama karena setelah saya fikir, saya akan lebih senang jika tetap bersama orangtua dan adik-adik saya.
Keesokan harinya saya melihat kunci jawaban SMPTN yang ada di koran, ketika saya cocokan dengan jawaban saya, ternyata saya tidak lulus di kedua pilihan jika saya melihat dari passange gradenya. Point saya kurang 2. Akhirnya saya konfimasikan ke ayah saya, bahwa saya sudah pasti tidak di terima di manapun. Ayah saya pun merasa prospek penjualan di jalan Paus itu tidak begitu memuaskan, akhirnya kami memutuskan untuk tetap di Bandung saja. Sambil keliling kota Bandung pada saat itu, kami mencari-cari Universitas Swasta yang memungkinkan untuk saya kuliah. Tapi ternyata tidak mudah, karena biaya untuk kuliah di swasta nya tidaklah murah. Sampai saya benar-benar kebingungan akhirnya saya menyiapkan mental untuk siap bekerja jika seandainya saya tak bisa kuliah, alhamdulillah saya tamatan SMK jurusan akuntansi, jadi ada modal untuk bisa bekerja di bagian office sebuah perusahaan.
Sebulan berlalu muncullah pengumuman bahwa saya diterima pada pilihan pertama ujian SNMPTN, yaitu di jurusan Psikologi UIN SUSKA Riau. Kami sekeluarga tidak menyangka hal ini bisa terjadi, padahal sebelumnya nilai saya sudah jelas-jelas kurang. Alhamdulillah, ketika itu semua mendukung, tidak ada yang menahan niat dan semangat saya dan ayah saya untuk melanjutkan ini. Akhirnya dengan berbekal uang 8 juta rupiah kami berangkat ke Pekanbaru.
Hari demi hari saya lalui di tanah Lancang Kuning ini, saya benar-benar merasa asing. Bagi saya ini titik tolak segala perubahan dalam hidup saya. Dari mulai saya yang dulu ingin memakai jilbab panjang, tapi saya baru sanggup ketika di Pekanbaru, karena di Pekanbaru banyak yang memakai jilbab panjang. Kemudian semua teman dan kerabat yang saya jumpai begitu ramah dan tidak sombong. Dosen yang saya temui begitu mengerti akan apa yang dibutuhkan mahasiswanya. Terutama saya merasa suhu di Pekanbaru begitu cocok dengan saya.
Saya bersyukur dengan apa yang telah saya dapat ini, untuk kedepannya saya berharap saya bisa menjadi orang yang selalu dirindukan oleh semua yang pernah mengenali saya, menjadi orang yang bermanfaat bagi semua yang membutuhkan saya. Keinginan saya begitu kuat untuk bisa sukses dan mensukseskan adik-adik saya. Yang pasti saya harus fokus dengan apa yang saya hendak capai saat ini. Semoga keberuntungan selalu menyertai kita semua dengan ridho yang Allah berikan dan rasa syukur yang tiada henti-hentinya terlantun dari tiap detik nafas kita kepada sang Maha Pencipta. Allah Subhanahuwata’ala. Aamiin ya robbal ‘alamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAAFKAN

Cintaku..

Qalb yang artinya bolak-balik