LITOTES NEGERI
Lomba Penulisan Puisi
Pekan Seni Mahasiswa Daerah Riau
(mendapatkan juara 2)
Tema: BENCANA
Oleh : Sherly Desiana Safitri
LITOTES NEGERI
Berawal
dari kejora yang terhimpun
Berpatri
dalam rangkaian gugusan
Membuncah
dalam keheningan lahirnya sang pemimpi
Meniti
kelopak demi kelopak yang hanyut di tepian telaga
Citra
diri terkuras jemari
Sayap
yang siap merdeka tak kunjung terberi ruang
Putik
dan biji kenari yang bersautan
Menunggu
saling bermunculan
Menyambut
negeri
Hendak
menjadi mentari yang berdansa di tengah kekakuan induk waktu
Gemuruh-gemuruh
elok memekikkan seruannya
Meraba
dan menyisir seluruh langit-langit proklamasi
Mencoba
menemukan kesempatan meraup zamrud
Menebaskan
berlian yang bersilangan demi dicengkramnya cita
Terlahir
dari rahim nusantara
Sang
anak terdidik pekerti
Namun
tatkala tersambung dengan realita
Terpandanglah
busur-busur yang tak jelas panahnya
Berasal
dari mana kemana
Udara
dan rasa tercemar
Bertebaran
tak sesuai dan menyambut dengan keliru
Keluhan
dan kepincangan bagai ombak yang saling berkejaran menampakkan wajah-wajahnya
Bencana
datang tak permisi serta tanpa pamit
Dari
mulai yang bermuka kusam, bengis, merayu, mencaci, hingga merogoh tegaknya
mental
Ketika
mata terarah pada dedaunan moralitas
Ketika
itu jiwa dini yang tak bersalah dilecehkan makhluk biadab yang kerasukan
Bibitnya
menjamur ke seluruh pelosok kerumunan
Lalu,
apalah negeri ini?
Hanya
sebongkah batu yang teronggok keras memantau tanpa suara
Ketika
sampah-sampah makanan dihinggapi belatung
Perut-perut
anak tak berdosa dipinggiran jalan membutuhkan asupan
Ketika
rasa tertuju pada tangkai-tangkai intelektual
Di
saat itu juga organ-organ kepala terbentur kemalut pekat
Yang
mampu justru tak terdengar
Yang
berhak justru tak terurus
Para
pewenang hanya sibuk mencakar celah hedonisme
Merayap
ke ranah dewan perwakilan
Tersaksikan
kursi yang berterbangan
Bagai
permainan bola pingpong
Ketika
telinga diteriaki sayup isakan tangis negeri Palestina
Para
daging bernyawa justru terpaku pada tiang-tiang bermuka dua
Tiang
pertama mengulurkan kesukaan yang menganut kesia-siaan
Tiang
kedua menciptakan magnet rekat yang mengobsesi penggemarnya
Tiang
ketiga mengundang para intelek untuk menghabiskan masa demi masanya untuk
berdunia maya
Hingga
masih banyak tiang-tiang lainnya
Disaat
semua peranan itu beraksi
Ikatan
dalam ingatan kalbu yang suci pun lepas
Tak
sadarkah bahwa engkau sedang diruntuhi palu godam wahai anak Adam?
Sungai-sungai
tak diijinkan mengalir sesuai porsinya
Keindahan
kaki gunung terdindingkan asap vulkanik
Negeri
minyak berjarak pandang lima bentangan tangan
Serta
antrian kegelisahan alam lainnya
Ya
Tuhan.. sudikah buih-buih ini Engkau perkenankan meraih kesempatan membenah
diri?
Bagai
putihnya gandum terngiang di pelipis dan alis mengalir
Seperti
reruntuhan serambi yang disirat dari berbagai kerlingan yang manis
Menari-nari
di ufuk kerendahan perjalanan makhluk-makhluk jalang yang tertuang dan tertanam
dalam mahkota kecintaan para raja
Singgasana
terhempas dalam kelenjar riasan pengantin politik
Ukiran
bunga dan silau berlian yang berliku membahas rindu yang senantiasa merekah
Bak
ronaan lukisan firdaus yang masih ghaib
Atap
kemilau itu menggaruk seluruh isi keheningan naluriku
Begitu
tajam memikat rasa yang melingkar di ujung tanduk
Menggoyahkan
kenikmatan yang tersaingi
Hanya
asa yang terus dipautkan
Bahwa
Tuhan sesuai prasangka Hamba-Nya
Serta
nadi yang terus berdenyut menyusuri keikhlasan
Menciptakan
legenda yang kesekian ribu
Tersusun
rapi dalam semua rangkaian Lauh Mahfudz
Yang
tak mengerti kapan akan berhenti
Sampai
nafas berakhir satu demi satu..
Komentar
Posting Komentar